Oleh: suyoto2 | Januari 8, 2009

OLEH-OLEH DARI LGK SE-JAWA 2008

Akhirnya perjalanan panjang saya dalam mengikuti proses seleksi dalam Lomba Guru Kreatif se-Jawa 2008 yang diselenggarakan oleh Universitas Katolik Seogiopranoto Semarang bekerja sama dengan PT. Ulam Tiba Halim (Marimas) mencapai garis finish. Alhasil, tropi Juara Kedua kategori SMA/MA/SMK saya bawa pulang untuk saya persembahkan pada “negeri tercinta saya” (sekolah) dan “ibu pertiwi saya”(istri dan anak-anak). Bersama dengan Lasron Sinaga, seorang guru yang sangat kalem penampilannya tetapi ternyata cukup berat sebagai rival, yang pada akhirnya keluar sebagai pemenang pertama kategori SMA/MA/SMK, dan Yulia Susilowati, seorang guru yang energik, cantik, tapi begitu banyak prestasi dimilikinya, yang pada akhirnya berhasil membawa pulang tropi juara ketiga.

Harus saya akui bahwa proses kompetesi yang satu ini sangat panjang, penuh tantangan, menegangkan, dan sangat menantang. Pertama-tama entah tiga atau empat bulan sebelumnya, saya harus mengajukan konsep inovasi pembelajaran yang saya lakukan. Konsep inovasi tersebut harus bersaing dengan konsep-konsep guru lainnya sebanyak 746 naskah. Lumayan, konsep saya diterima sehingga saya dinyatakan lolos seleksi tahap pertama bersama sekitar 230 guru lainnya.

Tahap berikutnya, saya diminta menyusun RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). RPP tersebut diseleksi lagi dan pada akhirnya saya dinyatakan lolos seleksi tahap kedua atau masuk 50 besar.

Peserta yang dinyatakan masuk 50 besar dipanggil ke LPMP Jawa Tengah pada tanggal 25-28 November 2008.

Dalam seleksi final, ada beberapa tahap yang harus ditempuh. Tahap pertama adalah FGD (Focus Group Discussion) dan presentasi untuk menentukan 5 finalis masing-masing kategori. Dalam FGD masing-masing beserta harus menunjukkan kemampuan dan pengetahuannya tentang masalah-masalah pendidikan karena antarpeserta harus berdebat. Dalam presentasi peserta harus menjelaskan gagasannya di hadapan dewan juri.

Lumayan. Setelah mengalami proses seleksi tersebut nama saya masih tercantum dalam jajaran finalis 5 besar.

Tahap berikutnya adalah seleksi untuk menentukan pemenangnya. Ada dua tahapan, pertama Uji Publik Intern dan kedua Praktik Mengajar. Uji publik intern prosesnya mirip-mirip dengan pemilihan “putri Indonesia”. Cukup menegangkan karena begitu langsung diumumkan, finalis didudukkan di kursi panas, ambil undian pertanyaan, dibacakan pertanyaannya dan diberi kesempatan menjawab hanya dalam 5 detik dengan lama jawaban 1 menit, Terus dicecar pertanyaan oleh juri (10 juri) sekitar 2 menit.

Berikunya praktik mengajar di sekolah. Untuk finalis guru SMA/SMK/MA praktik mengajar di SMA Negeri 2 Banyumanik. Cukup menyenangkan, tidak seperti sedang berkompetisi untuk lomba.

Puncaknya : MALAM PENGANUGERAHAN

Pertama-tama ditayangkan lima finalis.

Trus satu persatu ditayangkan pemenangnya.

pemenang ketiga….. bukan saya

pemenang kedua……. Agustinus Suyoto.

Sejenak nafasku tersengal saking bangganya karena berhasil melalui seluruh tahapan dengan sebaik-baiknya. Bangga karena bisa pulang dengan kepala tegak dan mempersembahkan tropi untuk almamaterku. Bangga karena bisa memberikan sesuatu yang diminta anak saya (tropi), dan istri saya (tentunya uang hadiah lomba….. bayangkan 7,5 juta).

Terima kasih untuk rekan-rekan guru SMA Stella Duce 2 Yogyakarta yang dengan caranya sendiri-sendiri telah memberikan motivasi pada saya untuk berjuang habis-habisan dalam lomba ini.

Untuk Estu (Stella Duce Dagen), Pak Sunu (Stella Duce Dagen), dan Bu Tattik (Tarakanita Solo Baru), yang sama-sama berjuang dalam 50 besar (finalis) di LPMP Jawa Tengah, terima kasih atas dukungan dan motivasinya. Dukungan kalian sangat menyemangati saya untuk berjuang atas nama korp Tarakanita (sampai-sampai ketika praktik mengajar saya “diledek” oleh salahsatu juri karena dengan penuh percaya diri memakai seragam guru khas Tarakanita).

Teruskan perjuangan dalam LGK tahun 2010. Pasti berhasil!!

Iklan

Sosok Maria dalam film Ayat-ayat Cinta menggelitik saya. Tentu saja, saya tergelitik dalam hubungannya sebagai pribadi yang memiliki keyakinan Kristiani. Namun, dalam tulisan ini saya tidak ingin mempersoalkan masalah “pindah agama” atau yang sejenisnya. Saya hanya ingin mencoba melihat secara jernih sosok Maria dalam kacamata analisis tokoh dan penokohan.

Gambaran sosok Maria sejak awal terlihat sebagai sosok yang Kristiani banget. Artinya, nilai-nilai hidup seorang Kristiani sejati tercermin dalam penggambaran tokoh Maria. Berpengetahuan, toleren, berani ambil resiko dalam menolong orang lain, berani mengalah, dan memiliki jiwa pengampun. Berikut ini akan saya coba kemukakan analisa pribadi saya atas nilai-nilai hidup yang diyakini oleh tokoh Maria dalam film tersebut.

Pertama, berpengetahuan. Sosok Maria dalam film tersebut digambarkan sebagai sosok yang berpengetahuan. Ia tahu banyak hal, bahkan termasuk informasi-informasi agama di luar keyakinannya. Pengetahuan tersebut hidup dan dihidupi dalam rangka menempatkan diri dalam kehidupan sehari-hari. Karena pengetahuannya yang mendalam tentang agama lain tersebut, dalam pergaulannya dengan Fahri dan teman-temannya, ia bisa menempatkan diri secara tepat. Di samping pengetahuan yang luas, ia juga digambarkan sebagai orang yang lumayan pandai. Hal itu dapat dilihat dari adegan menganalisa permasalahan komputer Fahri dan memberikan solusi atas hilangnya file-file Fahri. Sungguh pandai sang sutradara menggambarkan nilai-nilai persaudaraan sejati dalam adegan-adegan ini.

Kedua, toleren. Sejumlah adegan menunjukkan bahwa sosok Maria merupakan sosok yang digambarkan memiliki jiwa tolerensi tinggi. Dia menghargai prinsip-prinsip agama lain dengan tidak mencuri-curi bersentuhan dengan Fahri (walaupun keinginan itu  begitu menggebu dalam hari Maria). Secara pribadi saya sangat tersentuh dengan penggambaran toleransi dalam adegan kehidupan Maria bersama dengan Fahri dan teman-temannya di tempat kost. Bagaimana Fahri dan teman-temannya (sebagai gambaran orang-orang nonmuslim mayoritas) memperlakukan Maria (sebagai gambaran minoritas di tengah-tengah mayoritas). Sungguh sangat indah! Dan tampaknya dalam film tersebut ”roh” toleransi tersebut dicoba untuk dipertahankan dengan adegan-adegan Maria dan teman-teman Fahri setelah Fahri menikah.

Ketiga, berani ambil resiko dalam menolong orang lain. Setidak-tidaknya ada adegan yang bagi saya cukup menyentuh yaitu ketika Maria dengan berani berusaha menolong seorang gadis muslim yang disiksa oleh orangtua angkatnya. Fahri yang begitu prihatin dan tersentuh dengan penderitaan perempuan itu tidak berani serta merta menolongnya. Dia meminta bantuan Maria untuk menolong. Dan tanpa berpikir panjang akan resiko-resiko yang akan diterimanya (termasuk pada akhirnya dia menanggung resiko akan dibunuh). Adegan ini menunjukkan betapa Maria memiliki ketulusan hati dalam menolong siapapun tanpa memandang agama dan tanpa memperhitungkan resiko yang harus ditanggungnya. Sungguh gambaran ideal seorang Kristiani sejati atau secara umum merupakan gambaran ideal manusia sejati.

Keempat, berani mengalah. Ketika mengetahui bahwa Fahri sudah beristri, walaupun dengan berat hati dan hancur, Maria menyingkir dari kehidupan Fahri dan Aisha. Keberanian untuk mengalah ini saya kira merupakan hakikat sejati dari cinta itu sendiri. Digambarkan dalam film itu bahwa keberanian untuk mengalah ini merupakan pilihan yang sangat berat bagi sosok Maria sampai-sampai keluar darah dari tubuhnya. Mencermati adegan itu saya jadi teringat peristiwa di Taman Getsemani ketika Yesus harus berjuang untuk berani menerima kematiannya esok harinya demi cintanya pada manusia. Dan keberanian untuk mengalah ini dilakukan dengan tulus tanpa keinginan untuk memegahkan diri, terbukti Fahri tidak tahu.

Kelima, bersedia menyelamatkan orang yang telah membuatnya menderita. Upaya Aisha untuk mencari Maria didasari pada motivasi untuk menyelamatkan suaminya dari hukuman mati.  Kesaksian Maria menjadi kunci penyelamatan Fahri dari tuduhan pemerkosaan. Maria yang dalam kondisi sakit berjuang untuk hidup dalam kerangka menyelamatkan Fahri dari hukuman mati. Dalam pandangan saya, sebenarnya Maria telah memilih jalan untuk dirinya sendiri dengan membiarkan dirinya berada dalam kondisi sakit dan akhirnya mati. Namun, motivasi untuk menyelamatkan Fahri-lah yang membuatnya tetap bertahan hidup dan memberikan kesaksian dalam persidangan. Tampaknya, Fahri menikahi Maria bukan pertama-tama karena cinta tetapi terlebih karena norma agama. Fahri tidak bisa menyentuh Maria karena dia bukan muhrimnya sementara Maria membutuhkan sentuhan itu untuk memperkuat semangat hidupnya. Dan saya kira, dalam adegan di rumah sakit ini tercemin sikap rela berkorban dari tokoh-tokoh sentral dalam film ini. Hanya saja, dalam pandangan saya, kadar ketulusan paling tinggi terdapat pada sosok Maria.

Keenam, rela berkorban. Dalam berbagai adegan saya menemukan sejumlah bukti bahwa sosok Maria merupakan sosok yang rela berkorban. Pengorbanan terbesar yang dia lakukan adalah meminta Fahri dan Aisha untuk mengajarinya shalat karena sebuah keinginan (atau tepatnya kerelaan) untuk bisa secara total bersatu dengan Fahri dan Aisha. Sebuah pengorbanan yang kiranya paling besar dalam sejarah manusia. Ada gambaran yang menggelitik saya, untuk menggambarkan betapa hebatnya pengorbanan Maria dalam adegan ini digambarkan adanya tetes-tetes darah yang jatuh ke tatto Maria. Ketulusan dan kerelaan yang kiranya tidak ada tandingannya.

Kalau kita mencermati adegan-adegan yang menggambarkan perwatakan tokoh Maria dalam film Ayat-ayat Cinta kita akan dapat menemukan banyak nilai luhur yang mengatasi penafsiran-penafsiran sempit sebuah karya sastra. Penafsiran atas karya sastra sebaiknya memang dilakukan secara menyeluruh, bukannya dipenggal-penggal. Bahwa pada beberapa adegan diselipkan ”pesan moral” ataupun ”pesan sponsor” khusus, kiranya hal itu wajar-wajar saja karena memang sangat sulit untuk membuat karya sastra netral senetral-netralnya. Toh harus kita akui bahwa karya sastra tidak muncul dari kekosongan, melainkan dari berbagai unsur nonsastra yang mempengaruhinya.

Pada sisi lain, tampaknya kita perlu menggalakkan lagi atau kalau sudah digalakkan ya… lebih digalakkan lagi pembelajaran apresiasi sastra sehingga akan semakin banyak orang yang cerdas dan bijaksana dalam menikmati karya sastra.

Semoga.

*) Ini merupakan contoh tulisan (esai) yang didasarkan pada analisis intrinsik (tokoh dan penokohan).

Kategori