Oleh: suyoto2 | April 15, 2008

BERKACA PADA KELUHURAN “MARIA” DALAM FILM AYAT-AYAT CINTA

Sosok Maria dalam film Ayat-ayat Cinta menggelitik saya. Tentu saja, saya tergelitik dalam hubungannya sebagai pribadi yang memiliki keyakinan Kristiani. Namun, dalam tulisan ini saya tidak ingin mempersoalkan masalah “pindah agama” atau yang sejenisnya. Saya hanya ingin mencoba melihat secara jernih sosok Maria dalam kacamata analisis tokoh dan penokohan.

Gambaran sosok Maria sejak awal terlihat sebagai sosok yang Kristiani banget. Artinya, nilai-nilai hidup seorang Kristiani sejati tercermin dalam penggambaran tokoh Maria. Berpengetahuan, toleren, berani ambil resiko dalam menolong orang lain, berani mengalah, dan memiliki jiwa pengampun. Berikut ini akan saya coba kemukakan analisa pribadi saya atas nilai-nilai hidup yang diyakini oleh tokoh Maria dalam film tersebut.

Pertama, berpengetahuan. Sosok Maria dalam film tersebut digambarkan sebagai sosok yang berpengetahuan. Ia tahu banyak hal, bahkan termasuk informasi-informasi agama di luar keyakinannya. Pengetahuan tersebut hidup dan dihidupi dalam rangka menempatkan diri dalam kehidupan sehari-hari. Karena pengetahuannya yang mendalam tentang agama lain tersebut, dalam pergaulannya dengan Fahri dan teman-temannya, ia bisa menempatkan diri secara tepat. Di samping pengetahuan yang luas, ia juga digambarkan sebagai orang yang lumayan pandai. Hal itu dapat dilihat dari adegan menganalisa permasalahan komputer Fahri dan memberikan solusi atas hilangnya file-file Fahri. Sungguh pandai sang sutradara menggambarkan nilai-nilai persaudaraan sejati dalam adegan-adegan ini.

Kedua, toleren. Sejumlah adegan menunjukkan bahwa sosok Maria merupakan sosok yang digambarkan memiliki jiwa tolerensi tinggi. Dia menghargai prinsip-prinsip agama lain dengan tidak mencuri-curi bersentuhan dengan Fahri (walaupun keinginan itu  begitu menggebu dalam hari Maria). Secara pribadi saya sangat tersentuh dengan penggambaran toleransi dalam adegan kehidupan Maria bersama dengan Fahri dan teman-temannya di tempat kost. Bagaimana Fahri dan teman-temannya (sebagai gambaran orang-orang nonmuslim mayoritas) memperlakukan Maria (sebagai gambaran minoritas di tengah-tengah mayoritas). Sungguh sangat indah! Dan tampaknya dalam film tersebut ”roh” toleransi tersebut dicoba untuk dipertahankan dengan adegan-adegan Maria dan teman-teman Fahri setelah Fahri menikah.

Ketiga, berani ambil resiko dalam menolong orang lain. Setidak-tidaknya ada adegan yang bagi saya cukup menyentuh yaitu ketika Maria dengan berani berusaha menolong seorang gadis muslim yang disiksa oleh orangtua angkatnya. Fahri yang begitu prihatin dan tersentuh dengan penderitaan perempuan itu tidak berani serta merta menolongnya. Dia meminta bantuan Maria untuk menolong. Dan tanpa berpikir panjang akan resiko-resiko yang akan diterimanya (termasuk pada akhirnya dia menanggung resiko akan dibunuh). Adegan ini menunjukkan betapa Maria memiliki ketulusan hati dalam menolong siapapun tanpa memandang agama dan tanpa memperhitungkan resiko yang harus ditanggungnya. Sungguh gambaran ideal seorang Kristiani sejati atau secara umum merupakan gambaran ideal manusia sejati.

Keempat, berani mengalah. Ketika mengetahui bahwa Fahri sudah beristri, walaupun dengan berat hati dan hancur, Maria menyingkir dari kehidupan Fahri dan Aisha. Keberanian untuk mengalah ini saya kira merupakan hakikat sejati dari cinta itu sendiri. Digambarkan dalam film itu bahwa keberanian untuk mengalah ini merupakan pilihan yang sangat berat bagi sosok Maria sampai-sampai keluar darah dari tubuhnya. Mencermati adegan itu saya jadi teringat peristiwa di Taman Getsemani ketika Yesus harus berjuang untuk berani menerima kematiannya esok harinya demi cintanya pada manusia. Dan keberanian untuk mengalah ini dilakukan dengan tulus tanpa keinginan untuk memegahkan diri, terbukti Fahri tidak tahu.

Kelima, bersedia menyelamatkan orang yang telah membuatnya menderita. Upaya Aisha untuk mencari Maria didasari pada motivasi untuk menyelamatkan suaminya dari hukuman mati.  Kesaksian Maria menjadi kunci penyelamatan Fahri dari tuduhan pemerkosaan. Maria yang dalam kondisi sakit berjuang untuk hidup dalam kerangka menyelamatkan Fahri dari hukuman mati. Dalam pandangan saya, sebenarnya Maria telah memilih jalan untuk dirinya sendiri dengan membiarkan dirinya berada dalam kondisi sakit dan akhirnya mati. Namun, motivasi untuk menyelamatkan Fahri-lah yang membuatnya tetap bertahan hidup dan memberikan kesaksian dalam persidangan. Tampaknya, Fahri menikahi Maria bukan pertama-tama karena cinta tetapi terlebih karena norma agama. Fahri tidak bisa menyentuh Maria karena dia bukan muhrimnya sementara Maria membutuhkan sentuhan itu untuk memperkuat semangat hidupnya. Dan saya kira, dalam adegan di rumah sakit ini tercemin sikap rela berkorban dari tokoh-tokoh sentral dalam film ini. Hanya saja, dalam pandangan saya, kadar ketulusan paling tinggi terdapat pada sosok Maria.

Keenam, rela berkorban. Dalam berbagai adegan saya menemukan sejumlah bukti bahwa sosok Maria merupakan sosok yang rela berkorban. Pengorbanan terbesar yang dia lakukan adalah meminta Fahri dan Aisha untuk mengajarinya shalat karena sebuah keinginan (atau tepatnya kerelaan) untuk bisa secara total bersatu dengan Fahri dan Aisha. Sebuah pengorbanan yang kiranya paling besar dalam sejarah manusia. Ada gambaran yang menggelitik saya, untuk menggambarkan betapa hebatnya pengorbanan Maria dalam adegan ini digambarkan adanya tetes-tetes darah yang jatuh ke tatto Maria. Ketulusan dan kerelaan yang kiranya tidak ada tandingannya.

Kalau kita mencermati adegan-adegan yang menggambarkan perwatakan tokoh Maria dalam film Ayat-ayat Cinta kita akan dapat menemukan banyak nilai luhur yang mengatasi penafsiran-penafsiran sempit sebuah karya sastra. Penafsiran atas karya sastra sebaiknya memang dilakukan secara menyeluruh, bukannya dipenggal-penggal. Bahwa pada beberapa adegan diselipkan ”pesan moral” ataupun ”pesan sponsor” khusus, kiranya hal itu wajar-wajar saja karena memang sangat sulit untuk membuat karya sastra netral senetral-netralnya. Toh harus kita akui bahwa karya sastra tidak muncul dari kekosongan, melainkan dari berbagai unsur nonsastra yang mempengaruhinya.

Pada sisi lain, tampaknya kita perlu menggalakkan lagi atau kalau sudah digalakkan ya… lebih digalakkan lagi pembelajaran apresiasi sastra sehingga akan semakin banyak orang yang cerdas dan bijaksana dalam menikmati karya sastra.

Semoga.

*) Ini merupakan contoh tulisan (esai) yang didasarkan pada analisis intrinsik (tokoh dan penokohan).

Iklan

Responses

  1. wah pak sudah nonton ” AAC ” ni pasti,, pak saya mau ngasih tanggapan saya soal film ini pak karna menurut saya ada yang ketinggalan dari ulasan bapak mungkin saya yang salah,, tapi boleh kan pak berpendapat,, dan bila salah email aja pak,,
    satu sifat maria yang ketinggalan menurut saya dia itu orangnya mudah putus asa,, terlihat pas dia tahu kalau fahri udah nikah,, semangat hidup nya turun,, akibatnya dia jadi mudah sakit,, yah walaupun bapak bilang dia rela mengalah,, tapi “putus asa ” juga termasuk sifat pak,, saya juga kagum pak sama maria soalnya dia dengan mudah iklas bahwa fahri menikah dengan orang lain,, dia juga iklas menerima dia sebagai istri kedua,, dia juga iklas berbagi fahri dengan wanita lain,, tapi memang maria juga mudah putus asa ya,, pas aisyah hamil terus aisyah bilang besok kalo maria hamil,, dia juga harus jalan2 biar mudah hamil,, maria langsung down,,

    sekian pak,,,

  2. weh2 mosok to kyok ngono…….. huahua,,…,,.,.,.,.,.,.

  3. Minoritas dn mayoritas bs b’satu padu mngkin cma ada di film trsebut ,,krna pd knyataan na msh ada pendiskriminasian yg sgt jlas ….
    Satu penokohan yg kurang dbahas dr ulasan anda ttg tokoh “Maria” dlm film tersebut adlh tidak teguh dlm pendirian nya, ia rela mlepas k’kristenan na walau demi sesuatu yg sgt pnting ..tp klo mnurut saya iman is iman , tak bs d pksa oleh kondisi apa pun ,krn itu mnyangkut hub individu dg Tuhan…nmun dy branii mlepas na demi “sesuatu” yg bkan brasal dr hati na melainkan krn kondisi,,itu sdh ckup jlas menggambarkan ketidak teguhan nya dlm iman yg dianutnya..

    Maaf jika ada slah2 kata ,

    Johanna ‘Lampung
    SMA Methodist Immanuel
    XI s 2


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: